Judi Ludah . . . .

Ini sekelumit cerita dari seorang teman SMA-ku di Jogja dulu, namanya Bariso (waduh namanya unik bener ya ?), asli Sewon-Bantul, Jogjakarta. Dia prihatin dengan banyaknya kecelakaan, dan bencana di tanah air. Lebih khusus lagi daerah kelahirannya Jogjakarta. Pertama diguncang gempa, disusul awan panas wedus gembel Gn Merapi, lalu angin lesus/puting beliung, kemudian yang terbaru kecelakaan pesawat Garuda. Duh naas betul “negeri” Ngayogyokarto Hadiningrat ini, begitu mungkin pikirnya.

Tapi sebenarnya sih mungkin bukan cuma Jogja, juga seluruh Indonesia. Gempa, tsunami, banjir, longsor, pesawat jatuh, kapal tenggelam, angin lesus, kereta api terguling, beras mahal, busung lapar, korupsi dimana-mana, tawuran antar desa, teror bom, judi, prostitusi, pembalakan liar, habis dah semua…..!

Ironisnya, ketika negara ini telah nyata-nyata dikepung masalah dan bencana, susah bener rakyatnya untuk sadar, introspeksi, bertobat, kembali pada aturan, kembali ke jalanNya, bahkan sekalipun itu ditengah bencana.

Alkisah, setelah Jogja dan sekitarnya diguncang gempa hebat bulan Mei atau Juni tahun lalu, temanku B pulang dari Kalimantan ke kampung halamannya di Bantul. Dijumpainya rumah-rumah dikampungnya banyak yang rata dengan tanah. Sanak saudaranya banyak yang meninggal. Tak ada lagi tempat bernaung. Apa-apa jadi susah. Makan susah, tidur susah. Enggak makan enggak tidur ? Lebih susah. Kehidupan seolah terhenti.

Gusti Allah, mungkin kemudian hanya itu yang ada dibenak warga desa. Bencana ini, apapun bentuknya : ujian, peringatan, ataupun hukuman, itu adalah kehendak gusti Allah. Setelah kejadian itu, seperti sudah bisa ditebak, warga desa seolah tersadarkan akan kesalahan dan dosa-dosa yang telah dijalankan. Kalau dulu yang dilarang gusti Allah mereka kerjakan, dan sebaliknya yang diperintahkan olehNya justru djauhi, sekarang tidak demikian lagi.

Namun, kata temanku, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah bantuan banyak berdatangan, setelah kehidupan sedikit berputar, mereka kembali kealam “bawah sadar”-nya. Yang paling kasat mata adalah perjudian.

Ketika siang berganti malam, masih di seputar tenda pengungsian, banyak laki-laki bergerombol bermain judi gaple sampe subuh. Esoknya, dilanjutkan dengan judi menebak nomor plat mobil yang lewat. Tengah hari, setelah semua model perjudian menbosankan, mereka judi ludah. Tau apa itu judi ludah ? Masing-masing penjudi meludah ketanah, barang siapa yang ludahnya lebih dulu dihinggapi lalat maka dialah yang menang. . . !
Edan . . . tenan !

Tapi, aku sepenuhnya yakin, itu cuma sebagian kecil saja. Tidak semua pengungsi seperti itu. Iya ‘kan Ris ?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s