Nakal Itu Proses, Pak . . . ! (Essay)

Kata orang, saat-saat yang sering membuat pusing orang tua adalah ketika anak-anaknya menginjak usia remaja. Si pendiam tiba-tiba menjadi pemberang. Yang penurut berubah menjadi suka membangkang. Bahkan si bungsu yang disayangi karena rajin shalat mendadak pura-pura tidur nyenyak begitu terdengar suara adzan. Merepotkan orang tua memang. Tapi apakah mereka kelak akan selamanya seperti itu ? Belum tentu !

Psikolog Dr. Haims Gimet menyebut usia remaja yang bikin pising orang tua itu sebagai masa disorganisasi. Yaitu masa transisi dari masa anak-anak yang terorganisasi berubah menjadi masa remaja yang mengalami disorganisasi, sebelum akhirnya bergerak menuju masa reorganisasi sewaktu yang bersangkutan dewasa nanti. Usia-usia remaja ini katakanlah sebagai masa “edan” yang menyembuhkan, tulis Gimet dalam bukunya Between Parents and Teenagers.

Banyak sekali contoh tentang transisi kejiwaan pada masa remaja yang dilanda “badai” itu. Ketika masih anak-anak mereka terhitung alim dan manis-manis. Kemudian memasuki usia remaja berbalik menjadi nakal dan merepotkan, dan setelah dewasa menjadi baik kembali.

Ambilah contoh klasik. Dalam tarikh Islam siapa yang tidak mengenal Umar ibnu Khattab ? Sahabat Nabi yang satu ini berahlak mulia, pengasih, rela berkorban, berani, dan tidak pernah kompromi dengan musuh. Keluhuran budi Umar lekat diakui oleh seantero dunia Islam. Tapi siapa yang menyangkal bila pribadi yang penuh teladan itu semasa mudanya dulu amat buruk kelakuannya. Dulunya, Umar adalah tipe pemuda kafir tulen. Namun demikian, masa lalu dan maksiat dosa yang diperbuat Umar sebelum ia beriman kepada Allah dan Muhammad sudah dikunci mati begitu syahadat diucapkan.

Dari sinopsis kehidupan Umar itu, pelajarannya bagi kita adalah apakah untuk remaja yang terlanjur “rajin” bikin pusing orang tua itu bisa berubah menjadi baik seperti halnya Umar ? Jawabnya tentu saja bisa. Konversi seperti itu lumrah dan dan sangat sering terjadi.

Yang susah adalah stereotipe remaja nakal kini terlanjur ditempatkan pada posisi yang serba menyalahkan dirinya. Ini bisa mendorong remaja yang bersangkutan frustasi. Remaja berbuat begini dianggap melanggar aturan, mau begitu juga disalahkan.

Sikap orang tua, yaitu sumber munculnya stereotipe itu, memang sering mendua dan membingungkan. Remaja berhura-hura atau sedikit badung misalnya, jelas sekali akan dituding sebagai kenakalan remaja. Tapi sebaliknya ketika diadakan kegiatan yang bersifat positif, sambutan orang tua juga sering kurang simpatik. Ya macam-macam komentarnya : boros, tidak efisien, hanya mencari identitas dan lain-lain. Lebih-lebih bila remaja menjadi cuek dan tak mau berbuat apa-apa, yang demikian ini malahan mengundang komentar lebih payah.

Kembali mengenai masa remaja yang bikin pusing orang tua itu. Pada dasarnya Gimet memandang masa transisi kejiwaan tersebut sebagai proses yang alami dan manusiawi sifatnya. Ulah remaja yang memusingkan itu sangat mungkin terjadi pada remaja dimana saja, sebab secara psikologis mereka sedang tertarik-tarik diantara dua kutub : yaitu masa anak-anak yang akan dihapuskannya tetapi masih melekat dan alam dewasa yang asing dan belum dikuasai. Adalah wajar bila mereka menjadi susah diatur. Dipandang dari segi usia, mereka memang sedang masanya seperti itu. It is a time of turmoil and turbulence !

Sudah barang tentu kesimpulan Gimet tentang sifat yang alami dan manusiawi dari transisi kejiwaan itu tidak untuk membenarkan terjadinya kenakalan remaja seandainya kenakalan tersebut betul-betul ada. Pandangan Gimet akan lebih berarti bila dipakai sebagai bagian dari upaya memahami masa remaja yang dilanda badai itu. Sebab, baik orang tua maupun remaja akan dapat memetik manfaat maksimal bila ulah remaja itu dilihat dalam proporsinya.

Terlepas dari alasannya sendiri-sendiri, idea menjadi manusia yang baik dan berguna dihari depan nyata-nyata telah menjadi obsesi baik dari orang tua maupun remaja. Orang tua merasa pusing dan kerepotan karena berkepentingan dengan masa depan anaknya. Sudah pasti ia khawatir dan tidak ingin anaknya terjerumus dalam ulah dan pergaulan yang tidak sehat.

Sebaliknya bagi remaja, transisi kejiwaan yang penuh gejolak itu mau tak mau pasti dilewati demi pematangan pola berpikir dan berperilaku yang bersangkutan saat dewasa nanti. Itulah sunatullah. Melewati masa remaja yang “edan” itu adalah suatu keharusan. Bila tidak, apakah dia mau jadi anak-anak terus ? Dengan basis agama yang kuat, pada satnya nanti ulah remaja yang memusingkan itu akan sembuh dengan sendirinya.

Sampai disini, persoalan yang sesungguhnya lalu menjadi jelas dan lebih sederhana. Yang diperlukan disini adalah pemahaman kritis orang tua berkenaan dengan transisi kejiwaan yang sedang dialami anaknya. Sehingga remaja tidak perlu diteror oleh rasa bersalah dan sebaliknya orang tua tidak terjebak dengan sikap yang mendua dan membingungkan. Kenakalan remaja (baca : bukan kejahatan) itu hal biasa. Kenapa mesti ribut-ribut ? (Eh, seperti yang belum pernah remaja saja !)

Bila saja persoalan ini sejak awal lebih disadari, tentu keluhan-keluhan sekitar ulah remaja tidak perlu seramai yang kita dengar selama ini. Tanpa perlu bersikap permisif, kita toh bisa melihat ulah remaja itu dalam konteks kedinamikaan mereka. Semua itu, tentu saja, asal masih dalam batas-batas yang wajar. Wallahu’alam.
Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s