Hikayat Sebuah ST ….

Hari menjelang malam, kurang lebih sekitar jam tujuh malam. Seorang office boy datang dengan membawa sebuah kaset tayang dalam bentuk original master (OM) yaitu materi tayangan yang masih dalam bahasa aslinya. Biasanya OM adalah materi yang berasal dari negara-negara asing dengan bahasa non-inggris. Misalnya India, Mandarin, Korea dan Jepang. Materi tersebut nantinya akan di sulih bahasakan atau di dubbing. Sebelum di dubbing ia harus di preview dahulu untuk dinyatakan layak atau tidaknya ia ditayangkan.

Si pengirim menempelkan selembar post it di kaset tsb yang isinya materi tersebut termasuk kategori urgent. Karena ia sedang ditunggu oleh bagian dubbing.

Oleh Pak Kepsek, begitu kami memanggil atasan kami, kaset itu di berikan pada si Frengky untuk dikerjakan. Kebetulan saat itu karyawan yang sedang nggak kerja cuma Frengky. Saat itu dia sedang mblogger di depan komputer sana. Oleh pak Kepsek ditegaskannya lagi,
“Ky, nih kerjain. Urgent. Ditunggu dubbing”.
“Ya mas,”jawab Frengky tanpa menoleh. Hmm … rupanya dia lagi asik. Terdengar jelas tat-tut-tat-tut tangan nya asik mencetin tuts keyboard komputer. Saya dan teman-teman cuma negeliat sekilas dan lalu kami asik lagi dengan kerjaan masing-masing. Frengki juga demikian. Tat-tut-tat-tut …..

Tiga puluh menit berlalu.
“Ky, urgent …” pak Kepsek ngingetin l;agi
“Ya mas, sebentar, tanggung”, jawab Frengki. Dia lalu kembali asik tat-tut-tat-tut di depan komputer. Saya dan reman-teman cuma berdehem. Ehem … !! (maksa nih dehem nya). Masing-masing orang di ruangan itu lalu kembali tenggelam dalam kesibukan kerja.

Satu jam berlalu.
“Ky, urgent …”, kata pak Kepsek, suaranya lebih dalam.
“Yo mas, tinggal titik …”

Raut muka pak Kepsek kali ini sudah agak masam. Kami yang lain saling plirak-plirik. Yusuf ngangkat alis matanya. Si Djuve sudah cekikikan ….

Kebetulan posisi Frengky dalam mengetik dikomputer itu membelakangi kami semua. Dia menghadap ke kaca luar sedangkan kami berempat di belakangnya. Nah, materi yang urgent itu harus dikerjakan di VTR yang letaknya ada di belakang dia. Dia nggak “ngeh” dan nggak tau kalau pak Kepsek sudah menaham kesal dari tadi melihat anak buahnya asik ngeblogger, sementara materi urgent yang harus segera dikerjakan malahan dicuekin.

Akhirnya pak Kepsek lalu mengambil materi itu dan langsung mengerjakannnya sendiri. Materi itupun kemudian dikerjakannya dengan cara di-suttle. Maksudnya, materi itu dikerjakan dengan hanya mempertimbangkan aspek visualnya saja, soal audio dan content secara keseluruhan diabaikan. Cara ini memang sudah lazim dipakai untuk materi dengan kategori urgent. Nggak lama, paling antara tiga puluh menit sampai satu jam, materi itupun sudah selesai dikerjan.

Kami bertiga, saya, Djuve, dan Yusuf, yang melihat adegan langka tersebut gak bisa menahan tawa lagi. Tawa dan cekikikan langsung pecah ha …ha …ha…. Jarang-jarang nih ada atasan mengerjakan pekerjaan anak buah.

Si Frengky yang posisinya membelakangi kami masih nggak paham juga. Wah, kacau bener nih anak …. Telmi. Alias telat mikir …. Ha ha ha.
“Ada apa sih pada ketawa tawa ?”
“Gak, nggak ada apa-apa. Wis blogger wae”, jawab Yusuf sambil cengar-cengir.
Sementara pak Kepsek dengan wajah masam menaruh materi tersebut di meja screening untuk di preview ulang.

Seminggu kemudian …
Saya mendapat kabar bahwa Frengky dapat surat teguran (ST) atas sikapnya yang “menelantarkan” sebuah materi dengan kategori urgent.

Saya nggak ingin berpolemik soal perlu atau tidaknya Frengky dapat ST. Soalnya dua-duanya ya temen baikku juga. Yang jelas ini ST yang unik dan langka. Hmm … ini namanya “blogger makan tuan”. Ha ha ha ….

Iklan

2 comments

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s